Monday, April 14, 2008

DIAKONIA YANG MEMBEBASKAN
(Pa’kamayan melendokan)


Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 3:1-10

Pokok bahasan: Diakonia, bukan untuk menciptakan ketergantungan melainkan untuk memberdayakan dan membebaskan.

Pemahaman Teks (untuk Persiapan Pengkhotbah)
Babak baru dalam riwayat para murid Yesus ditandai dengan perubahan-perubahan besar dan mendasar dalam diri murid-murid. Mereka tidak lagi mengandalkan diri, tidak ada lagi keputusasaan dan masa bodoh. Para penakut itu telah berubah menjadi pemberani dalam bersaksi tentang Kristus. Pekerjaaan mereka pun terus ditandai dengan perkara-perkara luar biasa dan kasat mata.
Perikop ini menceriterakan salah satu peristiwa besar itu. Seorang yang lumpuh sejak lahir memperoleh kesembuhan secara luar biasa: kesembuhan lahir batin, fisik dan rohani.

Penuturan secara rinci mengenai waktu (ay. 1 - … menjelang waktu sembahyang, pukul tiga petang…) dan tempat (ay. 2 – ‘..pintu gerbang..’). Keterangan ini sekaligus menunjukkan bahwa kejadian itu terjadi di depan orang banyak (ay. 9), dan di hadapan orang-orang Yahudi yang setia pada tradisi-tradisi agama, termasuk berdoa tiga kali sehari (lihat Kis. 2:15 mengenai doa pada jam 9 pagi, Kis. 10:9 mengenai doa pada pukul 12 siang, dan Mzm. 55:17).

Kebiasaan memberi sedekah kepada orang miskin adalah salah satu kebanggaan orang Yahudi. Kebiasaan itu bahkan menjadi salah satu indikator kesalehan yang kadang-kadang menyebabkan kesalehan berubah menjadi kesombongan rohani.
Dalam konteks kesetiaan beragama orang Yahudi, jelas peristi-wa penyembuhan orang lumpuh ini dapat dipahami sebagai cara Allah melalui para rasul menyoroti kehidupan keagamaan orang Yahudi, dan menyatakan karya-Nya yang menyalematkan orang-orang yang sebe-lumnya hanya menjadi objek pelayanan yang amat terbatas manfaat-nya. Pelayanan dalam tradisi Yahudi memenuhi kebutuhan terbatas dari orang-orang tak berdaya, bahkan pelayanan itu telah menciptakan ketergantungan serta keterikatan si lumpuh pada materi atau kebutuhan fisik saja. Ia telah menjadi peminta-minta yang dimanjakan oleh tradisi agama yang tidak membebaskan (ay. 2 dan 3). Hati dan pikirannya diisi dengan pengalaman meminta dan menerima sedekah. Ia tidak bisa lagi melihat kemungkinan lain, selain dari mengharap sesuatu diberikan langsung kepadanya (ay. 5).

Gerbang Indah (pintu masuk ke Bait Allah zaman Herodes = Batas antara pintu masuk Bait Allah dengan halaman para perempuan Israel), seakan-akan menjadi satu-satunya ”lahan” seumur hidup yang dimilikinya.
Perkataan dan tindakan Petrus menyatakan dan membuka kemungkinan baru bagi orang itu. Tidak ada materi, tetapi ada kuasa Yesus melalui iman (ay. 6), dan ada belas kasih dan tangan yang penuh kasih memberi sokongan dan bantuan untuk kesembuhan (ay. 7). Dari pihak si lumpuh hanya ada iman yang tak terkatakan. Kesediaannya menerima perkataan dan uluran tangan Petrus menjadi tanda adanya iman dan pengharapan. Ia tidak menjadikan kelumpuhan sejak lahir sebagi alasan untuk menolak.

Demikianlah Petrus menunjukkan bagaimana seharusnya pelayanan (diakonia) dikerjakan oleh orang-orang yang mengikut Kristus. Pelayanan itu harus menyentuh kebutuhan yang paling mendasar, kebutuhan untuk bebas, untuk bangkit dari kelumpuhan, untuk bersukaria dan leluasa memuliakan Tuhan dan memuji karya-Nya (ay. 7-8). Ketiadaan harta bukanlah hambatan. Kelumpuhan sejak lahir juga bukan tantangan yang tak bisa diatasi.



Renungan untuk Persiapan Pengkhotbah

Lumpuh total berarti secara lahir dan batin tidak bisa beranjak dengan kehendak dan kemampuan sendiri. Maka, sesungguhnya tidak ada kelumpuhan total sejak lahir. Yang ada hanyalah kelumpuhan fisik sejak lahir. Kelumpuhan dapat diatasi oleh karena Allah berkuasa menyatakan karya-Nya secara bebas dan tanpa batas. Seorang dapat menyaksikan dan mengalaminya kalau ia percaya. Kalau kelumpuhan saja dapat diatasi, maka pelayanan Kristen (diakonia) harusnya berlangsung dalam keyakinan bahwa setiap orang dapat dibebaskan dari segala bentuk penyebab ketidakberdayaan.

Pokok-pokok yang dapat Dikembangkan dalam Khotbah

Manusia Beban ...

Memanjakan adalah sikap yang tidak menjadikan seseorang atau sekelompok orang untuk mandiri (coba bandingkan dengan anak-anak yang selalu dimanjakan orangtuanya). Manusia beban dapat terbentuk dan mulai terpola dari lingkup kelompok yang terkecil yaitu keluarga, ketika sejak lahir sampai menikah pun masih berada di bawah tanggu-ngan orangtua (bukankah umur 17 tahun sudah dihitung sebagai orang dewasa?). Akibat lanjutannya, terciptalah pola manusia beban dalam masyarakat secara umum. {Patut direnungkan: jangan-jangan negara pun ikut-ikutan menciptakan manusia beban, antara lain melalui kebijakan kompensasi BBM, beras miskin (Raskin), Asuransi Keseha-tan Miskin (Askeskin). Jangan-jangan bantuan melalui pelayanan diakonia turun-temurun juga ikut menciptakan manusia bermental manusia beban. Sebab ternyata orang tidak miskin pun mengaku sebagai orang miskin hanya karena ada pembagian Raskin atau Askeskin.

Methode Diakonia...

Si lumpuh membutuhkan sedekah, tetapi kebutuhannya lebih dari itu. Apapun bentuk sedekah yang diberikan, termasuk emas dan perak, tidak akan memberi kesembuhan. Berapa banyakpun uang yang diberikan kepada orang lumpuh, tetap saja ia lumpuh. Tak ada sede-kah yang dapat mengubah hidupnya. Sedekah hanya menempatkan hidup si lumpuh dalam rutinitas meminta dan menerima.
Diakonia yang dilayankan oleh Petrus adalah diakonia yang mengantar si lumpuh melihat dan mengalami kemungkinan baru yang lebih baik. Bukan dengan uang, melainkan dengan iman dan kasih yang melayani, menguatkan dan selanjutnya membebaskan.
Pelayanan diakonia harus menuntun pada iman yang di dalamnya karya pembebasan Allah menjadi nyata. Kalau itu terjadi, maka nama Tuhanlah yang dipuji, bukan nama orang-orang yang memberi sedekah. Diakonia seharusnya mengubah orang sakit yang hanya bisa meminta-menita (tergantung) menjadi orang sembuh yang leluasa memuji Allah. Diakonia seharusnya mengubah manusia beban menjadi manusia yang selalu terbebani untuk menolong (Luk. 6:38; Kis. 20:35).

Usul Ilustrasi

Suatu kali malaikat berkata, ”Semasa hidupmu kamu selalu duduk mengemis di depan pintu gerbang Gereja atau tempat ibadah lainnya, apa maksudmu?” Dengan santai ia menjawab, ”Orang yang mau masuk beribadah kan pastilah orang yang mau menjalin hubungan yang baik dengan Allah. Sudah tentu, sebelum atau setelah ibadah, kasih itu sudah harus diaplikasikan dalam hubungan dengan sesama manusia, ya .. seperti kami, kami inilah.” Malaikat bertanya lagi, ”lalu apakah terwujud yang kau harapkan?” Sang pengemis pun menjawab, ”Ya...., tidak semua sih begitu. Jangankan memberi, ada juga yang malah menghina kami dengan mengungkapkan kemis-kinannya. Kasih itu hanya di bibir mereka saja.” Dengan sinis ma-laekat menimpali ”Ya kamu sih yang salah alamat, masa mengemis kepada sesama pengemis.”


*****

No comments:

Adakah waktu untuk melihat sesama kita?

Loading...