Friday, March 21, 2008

Persembahan Yang Hidup

Persembahan Yang Hidup
Oleh: Manasje Korniawan


"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1)

Ketika manusia pertama, Adam dan Hawa, jatuh kedalam dosa, terputus hubungan dengan Allah, mereka merasa malu karena melihat diri mereka telanjang, tanpa pakaian, kemuliaan yang menyelubungi tubuh mereka telah hilang. Dan sebagai gantinya, untuk menutupi tubuh, mereka memakai pakaian dari daun pohon ara (Kejadian 3:7).

Adam dan Hawa berusaha menutupi kesalahan, dosa, pemberontakan terhadap Allah, dengan usaha mereka sendiri, kebenaran mereka sendiri, pemikiran rasional, yang dapat diterima oleh akal manusia, pembenaran diri sendiri dan mencari kambing hitam ketimbang penyesalan.

Tetapi Allah penuh kasih karunia, Allah memiliki rencana jauh ke depan, untuk menarik manusia yang telah jatuh dalam dosa, agar dapat dipulihkan dan bersekutu kembali dengan Allah.Sebagai ganti daun ara, "Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka." (Kejadian 3:21)

Tentunya ada binatang yang dikorbankan, disembelih, untuk diambil kulitnya. Ada darah binatang yang tercurah untuk menutupi kesalahan, dosa manusia, dan untuk sementara waktu memperbaiki hubungan manusia dengan Allah.

Dasar inilah yang dipakai oleh manusia sepanjang sejarah umat manusia, mulai dari kepercayaan animisme, dinamisme, suku-suku primitif, untuk mengadakan upacara-upacara ritual pemujaan dan pengorbanan kepada penguasa alam, pohon, batu, laut, matahari, dan lain-lain.

Ada darah yang dipersembahkan, ada yang dikorbankan, baik itu binatang, bahkan yang lebih ekstrem, korban manusia, untuk menyenangkan penguasa alam semesta, agar tidak murka dan mendatangkan bencana, ataupun agar melimpahkan berkat, hasil panen yang berlimpah.

Dalam kitab Perjanjian Lama, secara terinci dituliskan peraturan-peraturan untuk mempersembahkan persembahan korban, yang harus dilakukan oleh umat Allah, untuk menghapus dosa dan kesalahan, untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, persekutuan dengan Allah, serta menerima berkat-berkatNya. (Imamat pasal 1-7).

Binatang harus dikorbankan, disembelih, darahnya tercurah, sebagai pengganti/peghapus dosa, sebagai ungkapan syukur dan iman kepada Allah, memperbaharui persekutuan dan penyerahan diri kepada Allah, sebagai doa, komunikasi antara Allah dan umatNya.

Ini hanyalah gambaran sementara, karena Allah memiliki rencana yang jauh lebih mulia, pengorbanan satu kali, cukup untuk mengembalikan hubungan antara Allah dengan manusia, selama-lamanya. Melalui pengorbanan Yesus Kristus, Anak Domba Allah.

"Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam, sebab jika karena pelanggaran satu orang, semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya, yang dilimpahkanNya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran, semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup." (Roma 5:15,18)

Pengorbanan, oleh dunia dianggap sebagai suatu bencana, tragedi, kebodohan, menyerah kalah, bukan merupakan suatu kemenangan/keberhasilan.

Yesus Kristus harus menderita, ditangkap, disesah, dihina, dan disalibkan, bahkan sampai mati di atas kayu salib, merupakan suatu kekalahan telak menurut pandangan dunia. Padahal seharusnya kitalah yang harus menanggung semua itu.

Pengorbanan Yesus Kristus merupakan persembahan yang berbau harum di hadirat Allah, Yesus menang melalui pengorbanan, yang juga merupakan kemenangan Allah yang tersamar dalam tragedi, sehingga kita yang percaya (beriman) kepada Yesus Kristus beroleh pembenaran untuk hidup, beroleh keselamatan, dan pemulihan hubungan dengan Allah kekal selamanya.

Sepanjang segala jaman, manusia berusaha mencari pembenaran melalui jalan pemikirannya sendiri, seperti Adam dan Hawa, menutupi tubuh mereka dengan pakaian daun pohon ara, tapi tak pernah disadari bahwa pembenaran tidak pernah diperoleh, manusia tidak pernah dapat memperbaiki hubungan dengan Allah melalui usaha manusia itu sendiri.

Pembenaran hanya ada oleh karena kasih karunia Allah, melalui Yesus Kristus, percaya (beriman) atas pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib.

Jadi, setelah kita beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, setelah kita diselamatkan, dipulihkan persekutuan dengan Allah, apakah cukup begitu saja? Yang penting saya selamat, yang lain masa bodohlah, bukan urusan saya.

Firman Tuhan mengatakan, kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus. Seluruh aspek hidup kita, masa muda kita, kesehatan, kekayaan, kepandaian, waktu, pekerjaan, jabatan, talenta apapun yang Tuhan berikan kepada kita, harus dipakai sebagai kesempatan untuk bersaksi, mewartakan terang kasih Tuhan, dimanapun dan kapanpun. Kadang kita merasa berada di tempat dan waktu yang salah, tidak sesuai dengan keinginan kita, tetapi ingatlah bahwa Allah memiliki kehendak dan rencana yang khusus bagi hidup kita. Itu adalah ibadah yang sejati, merupakan persembahan yang berbau harum di hadapan Allah.

Mengikut Yesus, bukanlah seperti yang dunia harapkan, melalui jalan tol, jalan yang lebar, dapat lenggang kangkung semau gue, tanpa masalah, hidup enak kepenak dan melimpah berkat, apapun yang diinginkan dan diminta akan diberikan. Mengikut Yesus adalah melalui jalan salib, via dolorosa, menyangkal diri setiap hari, jauh dari harapan dunia, karena harus kalah setiap hari, mengalahkan kedagingan dari hari ke hari, berjalan menurut rencana dan kehendak Allah, menurut pimpinan Roh Kudus, hidup berkenan kepadaNya.

"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2)

Maukah kita hidup sebagai pengikut Kristus? Persembahkanlah hidup kita menjadi persembahan yang hidup, saat ini, bukan nanti kalau kita sudah tua atau tinggal sisa-sisa hidup kita. Satu hal yang dapat kita pegang, seperti yang menjadi keyakinan Rasul Paulus, "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kita. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal." (2Korintus 4:17,18).

(Berserah kepada kehendak dan rencana Tuhan).


Dikembangkan Oleh Gloria Cyber Ministries
© Copyright 2000-2008.
All rights reserved.

No comments:

Adakah waktu untuk melihat sesama kita?

Loading...